Kamis, 22 Desember 2011


Manusia dan Lingkungan







Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Jalan Tanah  Merdeka, Kp Rambutan. Ps. Rebo, Jakarta Timur
Kata Pengantar


















Daftar Isi


















BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Proses perubahan manusia dimulai dalam diri manusia itu sendiri. Kita semua memiliki potensi yang luar biasa. Kita semua mengharapkan hasil yang baik dari usaha kita. Sebagian besar dari kita selalu bekerja keras demi memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan.
Setiap dari kita memiliki kemampuan untuk menempatkan potensi unik yang dimiliki ke dalam tindakan untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Tapi ada satu hal yang menentukan tingkat potensi kita, yang menghasilkan intensitas kegiatan kita, dan hal itu memperkirakan kualitas hasil yang kita terima, yaitu adalah sikap kita.
Isu-isu kerusakan lingkungan menghadirkan persoalan etika yang rumit. Karena meskipun pada dasarnya alam sendiri sudah diakui sungguh memiliki nilai dan berharga, tetapi kenyataannya terus terjadi pencemaran dan perusakan. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan. Apakah manusia sudah melupakan hal-hal ini atau manusia sudah kehilangan rasa cinta pada alam? Bagaimanakah sesungguhnya manusia memahami alam dan bagaimana cara menggunakannya?
Perhatian kita pada isu lingkungan ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana keterkaitan dan relasi kita dengan generasi yang akan datang. Kita juga diajak berpikir  kedepan. Bagaimana situasi alam atau lingkungan di masa yang akan datang? Kita akan menyadari bahwa relasi kita dengan generasi akan datang, yang memang tidak bisa timbal balik. Karenanya ada teori etika lingkungan yang secara khusus memberi bobot pertimbangan pada kepentingan generasi mendatang dalam membahas isu lingkungan ini. Para penganut utilitirianisme, secara khusus, memandang generasi yang akan datang dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan sekarang. Apapun yang kita lakukan pada alam akan mempengaruhi mereka. Pernyataan ini turut memunculkan beberapa pandangan tentang etika lingkungan dengan kekhususannya dalam pendekatannya terhadap alam dan lingkungan.
B.     Pembahasan masalah
1.      Bagaimana seseorang dapat menghargai lingkungan dan karakteristiknya
2.      Bagaimana seseorang dapat mengolah dan mengelola lingkungan
C.     Tujuan
1.      Pembaca dapat menghargai lingkungan
2.      Pembaca dapat melestarikan lingkungan



 












BAB II
Manusia dan Lingkungan

A.     Sikap
 Sikap adalah segalanya. Sikap menentukan seberapa banyak masa depan yang diperlihatkan kepada kita. Sikap menetapkan ukuran impian dan mempengaruhi tekad ketika kita dihadapkan dengan tantangan baru. Tidak ada seorang pun di bumi berkuasa atas sikap kita. Tetapi, orang dapat mempengaruhi sikap kita dengan mengajarkan kita kebiasaan berpikir yang buruk atau ketidak-sengajaan kesalahan pemberian informasi atau memberikan sumber-sumber negatif kepada kita, dan tidak ada yang dapat mengendalikan sikap kita kecuali jika kita secara sukarela menyerahkan kendali atas sikap tersebut kepada diri kita sendiri.
Tidak ada seorang pun yang membuat diri kita marah. Kita lah yang membuat diri kita marah ketika kita menyerahkan kendali atas sikap kita. Apa yang orang lain mungkin telah dilakukan adalah ketidak wajaran. Kita yang memilih, bukan mereka. Mereka hanya membawa sikap kita untuk pengujian. Jika kita memilih sikap yang labil dengan menjadi bermusuhan, marah, cemburu atau curiga, maka kita telah gagal ujian. Jika kita menyalahkan diri kita sendiri dengan percaya bahwa kita tidak layak, sekali lagi, kita telah gagal ujian.
Jika kita peduli kepada diri kita, maka kita harus menerima tanggung jawab penuh atas perasaan kita sendiri. Kita harus belajar untuk menjaga perasaan-perasaan yang memiliki kemampuan untuk memimpin sikap kita ke jalan yang salah dan untuk memperkuat perasaan-perasaan yang dapat membawa kita lebih percaya diri di masa depan yang lebih baik.
Jika kita ingin menerima hasil masa depan memegang kepercayaan untuk kita, maka kita harus memilih pilihan yang paling penting yang diberikan sebagai bagian dari ras manusia dengan mempertahankan kekuasaan total atas sikap kita. Sikap kita adalah asset, harta karun yang sangat berharga yang harus di lindungi. Waspadalah terhadap pengacau dan pencuri di antara kita yang akan menghancurkan sikap positif kita atau berusaha membuatnya pergi
       
B.    Nilai
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Adanya dua macam nilai tersebut sejalan dengan penegasan pancasila sebagai ideologi terbuka. Perumusan pancasila sebagai dalam pembukaan UUD 1945. Alinea 4 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental. Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjuk adanya undang-undang sebagai pelaksanaan hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut. Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran itu kemudian dinamakan Nilai Instrumental.
Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batasyang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.
a.    CIRI-CIRI NILAI

Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah Sebagai berikut.
1.      Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai,tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang dapat kita indra adalah kejujuran itu.
2.      Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal (das sollen). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.
3.      Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya.Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

b.      MACAM-MACAM NILAI
Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu
1.    Nilai logika adalah nilai benar salah.
2.    Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.
3.    Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.

Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa lukisan itu
indah.

Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan
baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak
semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan
manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan
kita sehari-hari.

Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai
itu adalah sebagai berikut :
a)      Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia.
b)      Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
c)      Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

 Nilai kerohanian meliputi
1)      Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.
2)      Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan(emotion) manusia.
3)      Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa,Will) manusia.
4)      Nilai religius yang merupakan nilai keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.

  Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan menjadi dua  yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua mahluk.
Yang dimaksud Etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Etika Ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam.
  Sedangkan Etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Etika Ekologi Dangkal
Etika ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu etika antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika. Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia.   
 
Etika yang antroposentris ini memahami bahwa alam merupakan sumber hidup manusia. Etika ini menekankan hal-hal berikut ini :
1.   Manusia terpisah dari alam,
2.  Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.
3.   Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya
4.   Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia
5.   Norma utama adalah untung rugi.
6.   Mengutamakan rencana jangka pendek.
7.   Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya dinegara miskin
8.   Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi
 
Etika Ekologi Dalam
Bagi etika ekologi dalam, alam memiliki fungsi sebagai penopang kehidupan. Untuk itu lingkungan patut dihargai dan  diperlakukan dengan cara yang baik. Etika ini juga disebut etika lingkungan ekstensionisme dan etika lingkungan preservasi. Etika ini menekankan pemeliharaan alam bukan hanya demi manusia tetapi juga demi alam itu sendiri. Karena alam disadari sebagai penopang kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Untuk itu manusia dipanggil untuk memelihara alam demi kepentingan bersama.
 Etika lingkungan ini dibagi lagi menjadi beberapa macam menurut fokus perhatiannya, yaitu neo-utilitarisme, zoosentrisme, biosentrisme dan ekosentrisme. Etika lingkungan neo-utilitarisme merupakan pengembangan etika utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk semua. Dalam konteks etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan untuk seluruh mahluk. Tokoh yang mempelopori etika ini adalah Peter Singer. Dia beranggapan bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.
Etika lingkungan Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga disebut etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The Society for the Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih.

Etika lingkungan Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah satu tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth rasa senang atau menderita bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Bukan senang atau menderita, akhirnya, melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan untuk hidup. Kepentingan untuk hidup yang harus dijadikan standar moral. Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan binatang secara moral dapat dirugikan dan atau diuntungkan dalam proses perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan bereproduksi.
 Etika Lingkungan Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu dalam ekosistem diyakini terkait satu dengan yang lain secara mutual. Planet bumi menurut pandangan etika ini adalah semacam pabrik integral, suatu keseluruhan organisme yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan. Sehingga proses hidup-mati harus terjadi dan menjadi bagian dalam tata kehidupan ekosistem. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara seimbang. Hukum alam memungkinkan mahluk saling memangsa diantara semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur  yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu tokohnya, John B. Cobb, etika ini mengusahakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.
 
Secara umum etika ekologi dalam ini menekankan hal-hal berikut :
1. Manusia adalah bagian dari alam
2. Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang
3.  Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang
4.  Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk
5.  Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai
6.  Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati
7.  Menghargai dan memelihara tata alam
8.  Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem
9.  Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara. 
  Demikian etika lingkungan dapat digolongkan kedalam dua kelompok yaitu etika lingkungan dalam dan etika lingkungan dangkal. Keduanya memiliki beberapa perbedaan – perbedaan seperti diatas. Tetapi bukan berarti munculnya etika lingkungan ini memberi jawab langsung atas pertanyaan mengapa terjadi kerusakan lingkungan. Namun paling tidak dengan adanya gambaran etika lingkungan ini dapat sedikit menguraikan norma-norma mana yang dipakai oleh manusia dalam melakukan pendekatan terhadap alam ini. Dengan demikian etika lingkungan berusaha memberi sumbangan dengan beberapa norma yang ditawarkan untuk mengungkap dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

D.       EKOSISTEM
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme.[1] Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan". Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan hukum toleransi.[3] Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu.[1] Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannya.[1] Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.[2]
Komponen pembentuk
Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:
Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu :
1.    Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.    Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3.    Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4.    Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5.    Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6.    Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:


Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya . Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
Pengurai / dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu:
1.    aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan
2.    anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan
3.    fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Ketergantungan
Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.
Antar komponen biotik
Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui :
1.      Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang.
2.      Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.

Antar komponen biotik dan abiotik
Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti :
1.      siklus karbon
2.      siklus air
3.      siklus nitrogen
4.      siklus sulfur
Siklus ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi menumpuk pada suatu tempat.[2] Ulah manusia telah membuat suatu sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik, manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.[2]
Tipe-tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan.[5]
Akuatik (air)
Ekosistem sungai
·         Ekosistem air tawar.
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.[5] Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji.[5] Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.[5]



·         Ekosistem air laut.
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar.[5] Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.[5]
·         Ekosistem estuari.
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.[5] Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi[1]. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton.[5] Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.[5]
·         Ekosistem pantai.
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin.[5] Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.[5]
·         Ekosistem sungai.
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.[5] Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air[5]. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.[5] Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.[5]
·         Ekosistem terumbu karang.
Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai.[1] Efisiensi ekosistem ini sangat tinggi.[1] Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain.[4] Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang.[4] Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.[4] Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki pasir putih.[1]

·         Ekosistem laut dalam.
Kedalamannya lebih dari 6.000 m.[4] Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya.[4] Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.[4]
·         Ekosistem lamun.
Lamun atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut[6]. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal.[6] Seperti hal­nya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak.[6] Berbeda dengan tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan meng­hasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat‑zat hara.[6] Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.[6]
Terestrial (darat)

Ekosistem hutan hujan tropis memiliki produktivitas tinggi.
Ekosistem taiga merupakan hutan pinus dengan ciri iklim musim dingin yang panjang.
Ekosistem tundra didominasi oleh vegetasi perdu.
Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan.[2] Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan.[2] Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu.[2] Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas manusia.[2]
·         Hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik.[5] Ciri-cirinya adalah curah hujan 200-225 cm per tahun.[5] Spesies pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya.[5] Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi).[5] Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro, yaitu iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme.[5] Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari, variasi suhu dan kelembapan tinggi, suhu sepanjang hari sekitar 25 °C.[5] Dalam hutan hujan tropis sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit.[5] Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.[5]
·         Sabana.
Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60 inci per tahun, tetapi temepratur dan kelembaban masih tergantung musim.[6] Sabana yang terluas di dunia terdapat di Afrika; namun di Australia juga terdapat sabana yang luas.[6] Hewan yang hidup di sabana antara lain serangga dan mamalia seperti zebra, singa, dan hyena.[1]




·         Padang rumput.
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik.[4] Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat.[4] Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan.[4] Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.[4]
·         Gurun.
Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput.[6] Ciri-ciri ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun).[6] Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.[6] Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil[6]. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air.[6] Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, semut, ular, kadal, katak, kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lain.[6]
·         Hutan gugur.
Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki emapt musim, ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun.[4] Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat.[4] Hewan yang terdapat di hutam gugur antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakun (sebangsa luwak).[4]
·         Taiga
Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah.[5] Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya.[5] Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, sedangkan hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.[5]
·         Tundra
Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi.[5] Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari.[5] Contoh tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang.[5] Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.[5]
·         Karst (batu gamping /gua).
Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia.[6] Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro.[6] Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri, dengan keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.[6]
Buatan

Sawah merupakan salah satu contoh ekosistem buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.[5] Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.[1] Contoh ekosistem buatan adalah :
·         bendungan
·         hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus
·         agroekosistem berupa sawah tadah hujan
·         sawah irigasi
·         perkebunan sawit
·         ekosistem pemukiman seperti kota dan desa
·         ekosistem ruang angkasa.
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.
Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada bumi.
E.    Perkembangan manusia dengan lingkungan
A. SEJARAH PERUBAHAN LINGKUNGAN HIDUP.
Dengan pejalanan waktu, struktur tata lingkungan juga mengalami banyak perubahan, Adapun, urutan perubahan itu seperti berikut:
1. Tata Lingkungan Alami.
Mahluk hidup secara keseluruhan merupakan penyebab utama tejadinya berbagai perubahan dalam sistem kehidupan. sejakjaman dulu, kecuali manusia, mahluk hidup yang lain itu menjadi penyebab timbulnya perubahan alam yang tericikan, keseimbangan, dan keselarasan.
Tata lingkungan alami merupakan lingkungan yang belum tejamah oleh kehidupan manusia, struktur bentuk lingkungan alami masih ditentukan oleh faktor‑faktor alami itu sendiri seperti : Iklim, tanah, vegetasi jasad hidup, tumbuhan dan hewan. Karena, faktor‑faktor atau elemen‑eleman yang mempengaruhi struktur dari ekosistem tidak saina sifatnya, tidak mengherankan jika bumi terdapat ragam itu umumnya berubah sifat dan wajahnya disebabkan oleh bencana alam dan atau keran ulah manusia.
2. Tata Lingkungan Manusia sebagai Pemburu dan Pengumpul
Dalam perkembangan selanjutnya, pada masa manusia hidup sebagai pemburu dan pengumpul, manusia belum mengenal pertanian dan petemakan. Mereka belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Mereka umunmya hidup berpindah­pindah dari satu tempat ke tempat yang lain secara berkelompok. Tumbuhan­tumbuhan dan biji‑bijian yang dapat dimakan, mereka kumpulkan dari hutan, rawa, padang rumput, atau hewan yang berhasil mereka buruh dihutan, didanau atau disungai.
3.Tata Lingkungan Masa Manusia Bertani Menetap
Pada fase ini manusia mulai melakukan aktivitas berladang tetapi masih berpindah‑pindah dengan bercocok tanam. Umumnya mereka telah menanam jenis tanaman tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk menompang hidup dan kehidupannya. Mereka juga telah bertemak jenis hewan tertentu, sehingga mereka dapat melakukan pembudidayaaan tumbuh‑tumbuhan dan hewan peliharaan. Peladangan berpindah pada dasamya terdiri dari atas mebuka sebidang tanah dihutan dan menanami lahan hutan yang telah dibuka itu selama dua atau tiga tahun. Kemudian lahan itu ditinggalkan dan membuka lahan hutan yang baru ditempat lain. Pada saatnya panen, mereka kembali utnuk memetik hasil tanaman tersebut, kemudian menanam kembali dan seterusnya. Pada dasamya mereka hidup berpindah‑pindah dan bergerombol.
4.        Tata Lingkungan Masa Manusia Bertani Menetap
Dalam fase (perkembangan) ini, cara bercocok tanam dengan pola pertanian menetap sudah dianggap sebagai tingkat evolusi tertinggi dalam perkembangan masayarakat agraris. Pertanian menetap dengan padi sawah sangat dimugkinkan, karena sistem sawah merupakan sistem yang terdukung keberlanjutannya (lesatri). Bertani secara menetap bisa dilakukan pada tanah kering atau tanah tergenang air atau tanah yang digenagi dengan air.
Berdasarkan perkembangan yang ada, pola pertanian yang awalnya dilakukan manusia ialah dengan bercocok tanam diatas tanah kering disekitar rumah yang dinamakan perkarangan. Tetapi dengan meningkatny7a jumlah anggota keluarga dan meningkatnya kebutuhan akan bahan makanan mereka, selanjutnya tanah pertanian semakin diperluas. Tanah tanah kering yang dijadikan daerah pertanian tetap ini dulunya, disebut tegalan. Disamping itu ada pertanian diatas tanah sawah, yakni tanah pertanian yang secara periodik atau terus menerus digenagi air dan ditanami padi atau tanaman pangan lainnya.
5. Tata  Lingkungan Pada Masa Industri
Peningkatan jumlah penduduk pada. negara, industri biasanya, disertai pula, dengan peningkatan kebutuhan hidup, baik secara. kuantitatif maupun kualitattif. Akibat dari peningkatan kebutuhan hidup yang beranekaragam. jumlah dan kualitasnya, menyebabkan terkurasnya sumberdaya alam. melalui berbagai cara. Perkembangan ini disesuaikan dengan kemajuan teklnologi yang ada, yang sudah dikuasai manusia. Beban atas sumberdaya, alam semakin hari semakin berat. Pada. negara maju (industri) terjadi perubahan struktur dan ekosistem yang meliputi:
1). Perubahan dalam bidang pertanian, seperti pengaturan hak‑hak atau tanah, sistem pertanian, mekanisasi dan perbaikanj keteknikan. perubahan struktur usaha. tani, penggunaan pupuk pabrik dan obat‑obatan.
2). Perkembangan kota‑kota, yang mendatangkan. timbulnya, urbanisasi
3). Perubahan yang sangat fundeamental seperti lahimya, ” Masyarakat Industri” disamping” Masyarakat Agraris, timbulnya manyarakat pengusaha, masayarakat tenaga kerja, dan masayarakat pelayan jasa.
4). Timbulnya, masalah‑masalah kota, besar seperti masalah “Human Ekologi”, sosial hygienis dan masalah sosial psychologis.
5). Pertumbuhan. penduduk yang menanjak dengan segala, akibatnya.
Kota industri temyata, memiliki pengaruh negatif pada, tumbuh‑tumbuhan dan hewan. Dengan menurunnya, permukaan air tanah, tertutupnya, sebgain besar permukaan tanah oleh rumah‑rumah, gedung gedung, tercemamya, tanah karena, masuknya, bahan‑bahan kimia, dan. sisa‑sisa, buangan dari industri, menyebabkan gangguan pertumbuhan tanaman.
Dengan adanya, indutrialisasi berubah pula stuktur dan lingkungan alami dari daerah pedesaaan. Dalam tahapan ini, yang paling menyolok adalah terjadinya urbanisasi tenaga‑tenaga di desa, semakin menyempitnya, lahan pertanian, semakin meluasnya daerah kota dan daerah industri serta masuknya teknologi modemt ke desa, semua itu mendorong munculnya urbanisasi. Wajah lahan pertanian dalam phase industri jauh berbeda dengan wajah sebelumnya. Yang sangat mencolok adalah perubahan‑perubahan berikut ini :
1). Keanekaragaman sistem pertanian dan wajah pertanian tidak tampak lagi, pertanian lebih banyak mononton dan menjemukan.
2). Hutan‑hutan kecil yang dulu tersebar merata, sudah tidak tampak lagi.
3). Sapi‑sapi penarik alat pertanian sudah diganti dengan mesin‑mesin dan trkator, demikian pula untuk memanen hasil bumi yang tadinya menggunakan tenaga manusia, diganti dengan tenaga mesin.
4). Pemberantasan hama yang dahulu banyak dilakukan secara mekanis, diganti dengan cara penyemporotan dengan obat‑obatan dan sebagainya.
Dengan adanya perubahan tersebut, pengaliran energi dan materi dalam ekosistem pertanian dalam phase indutri sangat berbeda dengan wajah pengaliran energi dan materi dari ekosistem pertanian pada phase sebelum industri. Perubahan struktur dan tata lingkungan dari daerah pedesaaan dinegara‑negara maju mendatangkan pula masalah yang, sifatnya lebih banyak sosial ‑ politik dan sosial ‑ ekonomi, yaitu : timbulnya perebutan lahan untuk keperluan industri, pertanian, perdagangan, pemukiman, dan relcreasi/wisata.
B. PERUBARAN LANSEKAP
Lansekap secara terus‑menerus berubah, secara perlahan berdasarkan kurun waktu tertentu, dalam waktu geologis dan evolusi dengan proses geomorfologi. Seluruhnya berubah dengan lebih cepat dengan pertgantian spesies secara lokal atau regional. Suatu pendekatan lansekap regional terhadap pelestarian, menuntut suatu integrasi metodologi ekologi yang mengkoordinasikan data dari spesies individual yang terdapat pada pola‑pola lansekap regional.
Berapa spesies langica mungkin mempunyai arti elcologis yang penting terhadap fungsi ekosistem. Didadalam perencanaan lansekap regional, pelestarian lanselcap secara keseluruhan dengan kelengakapan keanekaragaman genetik asli adalah sangat ideal. Hal itu untuk mempertahanakan spesies dan proses ekologis dalam suatu lansekap. Degradasi terhadap lansekap yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia, sehingga menyebabkan perubahan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan gangguan pada lansekap alamiah.
Perkembangan terhadap peruabahan lansekap dapat dibedakan menjadi 5 (lima) tipe, menurut Forman dan Gordon (1986) meliputi hal‑hal berikut:
1). Lansekap Alamiah
     Dalam lansekap alamiah perubahan yang mungkin te~adi disebabkan oleh alam dan bukan sebagai akbiat dan kegiatan manusia. Dalam matrik lensekap alamiah, bercak dan koridor yang tedadi relatif kecil. Secara spatial bentuk koridor umumnya berbentuk alamiah seperti sungai. Dan jumlah koridor yang ada memperlihatkan suatu kecenderungan semakin meningkat dari lansekap alamiah menuju arah lansekap perkotaan.
2). Lansekap Pengelolaaan
     Pada lansekap wilayah pengelolaan, kegiatan pembalakan hutan menyebabkan bentuk‑bentuk bercak yang berbeda dalam ukuran dan tingkat degradasi yang tedadi. Hal ini menyebabkan kerusakan dan terdegradasi lahan. Pada Matrik yang tersisia umumnya hanya dapat ditemukan dominasi beberapa jenis yang dicadangkan untuk diproduksi. Hara mineral menjadi terdegradasi, akibat dilarutkan oleh besaran laju air limpasan, terutama pada lahan‑lahan terbuka untuk pembukaaan lahan, pembukaaan wilayah Oalan), dan lokasi pembekalan.
3). Lansekap Budidaya
Perkembangan budidaya usaha tani merupakan tahap awal kegiatan manusia dalam pengelolaaan bentang alam, yang erat kaitannya dengan pengembangan wilayah dan transportasi. Karakteristik lansekap budidaya ada tiga tahapan dalam prosesnya yaitu : tradisionil budidaya usaha tani, kombinasi tradisionil dan modem dan modem. Bersamaan dengan dilakukannya kegiatan budidaya usaha tani tersebut, mulai tumbuh dan berkembang bentuk‑bentuk pemukiman terpencar, berangsur‑angsur mengelompok, dan pada akhimya mulai menyatu. Untuk selanjutnya membentuk perkemapungan kecil dan berubah menjadi pedesaaan dan atau perkotaan.
4). Lansekap Pedesaan
Pada lansekap ini masih ditemukan bercak asli, dimana jumlah ukuran dan bentuknya cukupnya bervariasi. Bentuk bereak lainnya merupakan hasil perubahan akibat gangguan aktifitas manusia, baik dlam bentuk kebun, ataupun perkarangan. Kelimpahan jenis dalam lansekap ini tinggi. Dibanding dengan bercak yang masih asli yang kehidupen liar seperti gulma, dan atau jenis‑jenis parasit. Pada lansekap ini juga dicirikan oleh jalur koridor sebagai penghubung cenderung meningkat. Perananan fungsi struktiur matrik sangat erat kaitannya dengan habitat dan sumber pakan satwa liar.
5). Lansekap Perkotaan
Pada saat perubahan karakteristik stmktur lansekap dalam bentuk alam terdegradasi menjadi bentuk alam perkotaaan, sebagai akbiat dari aktifitas manusia, disatu sisi cenderung menimbulkan bercak bercak baru yang berpengaruh terhadap perubahan lingkungannya. Pada sisi lain, jalur koridor menjadi meningkat, koridor periarian menjadi menurun yang diakibatkan karena kegiatan manusia dan gangguan alam, Proses perubahan bentuk pemukiman (Perkemapungan kearah perkotaaan), kadangkala terpusat dan pengembangannya diatur melalui bentuk‑bentuk kebiajakan.
Berdasarkan uraian diatas, dengan memperhatikan hamparan spatsial bentuk struktur lansekap dari pegunungan hingga lautan maka lansekap alamiah, lansekap pengelolaan, lansekap budidaya, lansekap pedesaan, dan lansekap perkotaaan, pada dasamya merupakan bercak. Fregmentasi habitat yang kini berlansung pada kawasan alami, biasanya dibebakan oleh ulah manusia. Seperd peralihan peruntukan lahan dari hutan menjadi area pertanian, area pertanian menjadi perkebunan atau pemukiman. Hal itu tentu saja bisa mengurangi peluang bagi satwa untuk hidup dan menjalankan kehidupannya, termasuk pengembangbiakan.
C. LANSEKAP ALAMI DI PERKOTAAN
Lingkungan kota sebagai penyangga kehidupan manusia merupakan pencampuran banyak habitat. Penyebaran Jumlah dan keanekargamanan fauna diberbagai kota sangat berhubungan dengan keanekaragaman dan struktur vegetasi yang selanjutnya akan menetukan kualitas habitat. Lingkungan kota secara cepat telah merubah habiat alami dan komunitas kehidupan liar menjadi unsur‑unsur buatan manusia (Man Made). Permukaaan berpaving dan lansekap buatan serta lahan rumput luas, memerikan sedikit tempat berlindung dan tempat berbiak bagi fauna.
Pertumbuhan dan perkembangan kota, telah memusnahkan banyak tempat yang diperlukan oleh satwa. Namun demikian masih banyak bagian kota yang menyimpan elemen, keanekaragaman , vegetasi, yarfg dapat ditemukan pada areal jurang, danau, kuburan, kampus yang luas dan hutan kota. Masalah yang paling utama adalah lingkungan yang tersisa itu terpisah‑pisah, sehingga membentuk pulau‑pulau yang terpisah seiring dengan berkembangnya kota. Untuk itu diperlukan koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa, menyebar dari satu habitat ke habitat lain, sehingga memungkinkan aliran gen serta. kolonisasi lokasi yang sesuai.
Koridor konservasi adalah jalur‑jalur lahan yang dapat digunakan oleh kehidupan liar utnuk menghubungkan areal berhutang dengan areal hutan lainnya yang membentuk suatu sistem hutan yang besar (Spelberg & Sawyer, 1999). Dan unrtuk menciptakan hubungan antara lingkungan kota dengan. area pedesaan, dapat dilakukan melalui koridor‑k.oridor alami dan atau buatan. Koridor alami antara. lain berupa su’ngai, lereng yang curam. Sedangkan koridor buatan antara lain jalur kereta api, jalan raya, kanal, jalur tegangan tinggi. Koridor‑koridor ini sangat berpengaruh terhadap perpindahan dan penetapan kehidupan liar dikota/pedesaan).
Di dalam merencanakan ruang, terbuka jalur hijau perkotaaan, sumber perkotaaan yang mempunyai nilai spesial terhadap kehidupan liar harus diintegrasikan pada rencana (tata) ruang terbuka jalur hijau itu, Hal ini bukan hanya untuk tainan‑taman dan kawasan rekreasi belaka melainkan juga untuk hubungan antara lansekap alami dan buatan manusia sebagai ruang luar secara kesatauan.
Tata lingkungan alami merupakan lingkungan yang belum te~amah oleh kehidupan manusia, struktur bentuk lingkungan alami masih ditentukan oleh faktor‑faktor alami itu sendiri seperti : Iklim, tanah, vegetasi jasad hidup, tumbuhan dan hewan. Karena faktor‑faktor atau elemen‑eleman yang mempengaruhi struktur dari ekosistem tidak sama sifatnya, tidak mengherankan jika bumi terdapat ragam itu umumnya berubah sifat dan wajahnya disebabkan oleh bencana alam dan atau keran ulah manusia.
Beban atas sumberdaya alam semakin hari semakin berat. Pada negara maju (industri) terjadi perubahan struktur dan ekosistem yang meliputi:
1).   Perubahan dalam bidang pertanian, seperti pengaturan hak‑hak atau tanah, sistem pertanian, mekanisasi dan perbaikanj keteknikan perubahan struktur usaha tani, penggunaan pupuk pabrik dan obat‑obatan. Perkembangan kota‑kota yang mendatangkan timbulnya urbanisasi. Perubahan yang sangat fundeamental seperti lahimya ” Masyarakat Industri” disamping” Masyarakat Agraris, timbulnya masyarakat pengusaha”, masayarakat tenaga kerja, dan masayarakat pelayan jasa.
2). Timbulnya masalah‑masalah kota besar seperti masalah “Human Ekologi”,sosial Hygienis dan masalah sosial psychologis.
3). Pertumbuhan penduduk yang menanjak dengan segala akibatnya.
Perubahan struktur dan tata lingkungan dari daerah pedesaaan  di negara‑negara maju mendatangkan pula masalah yang sifatnya lebih banyak sosial ‑ politik dan sosial ‑ ekonomi, yaitu timbulnya perebutan lahan untuk keperluan industri, pertanian, perdagangan, pemukiman, dan rekreasi/wisata.
Dari uraian‑uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa, struktur tata lingkungan juga mengalami banyak perubahan, adapun, urutan perubahan itu seperti berikut:
1). Lansekap Alamiah
     Dalam lansekap alamiah perubahan yang mungkin tedadi disebabkan oleh alam dan bukan sebagai akbiat dan kegiatan manusia.
2). Lansekap Pengelolaaan
     Pada lansekap wilayah pengelolaan, kegiatan pembalakan hutan menyebabkan bentuk‑bentuk bercak yang berbeda dalam ukuran dan tingicat degradasi yang terjadi. Hal ini menyebabkan kerusakan dan terdegradasi lahan.
3). Lansekap Budidaya
     Perkembangan budidaya usaha tani merupakan tahap awal kegiatan manusia dalam pengelolaaan bentang alam, yang erat kaitannya dengan pengembangan wilayah dan transportasi. Karakteristik lansekap budidaya ada tiga tahapan dalam prosesnya yaitu : tradisionil budidaya usaha tani, kombinasi tradisionil dan modem dan modem.

4). Lansekap Pedesaan
Pada lansekap ini masih ditemukan bercak asli, dimana jumlah ukuran dan bentuknya cukupnya bervariasi. Bentuk bercak lainnya merupakan hasil perubahan akibat gangguan aktifitas manusia, baik dlam bentuk kebun, ataupun perkarangan. Kelimpahan jenis dalam lansekap ini tinggi. Dibanding dengan bercak yang masih asli yang kehidupan liar seperti gulma, dan atau jenis‑jenis parasit.
5). Lansekap Perkotaan
Pada saat perubahan karakteristik struktur lansekap dalam bentuk alam terdegradasi menjadi bentuk alam perkotaaan, sebagai akbiat dari aktifitas manusia, disatu sisi cenderung menimbulkan bercak bercak baru yang berpengaruh terhadap perubahan lingkungannya.
Lingkungan kota sebagai penyangga kehidupan manusia merupakan pencampuran banyak habitat. Penyebaran Jumlah dan keanekargamanan fauna diberbagai kota sangat berhubungan dengan keanekaragaman dan struktur vegetasi yang selanjutnya akan menetukan kualitas habitat. Lingkungan kota secara cepat telah merubah habiat alami dan komunitas kehidupan liar menjadi unsur‑unsur buatan manusia (Man Made). Permukaaan. berpaving dan lansekap buatan serta lahan nnnput luas, memerikan sedikit tempat berlindung dan tempat berbiak bagi fauna.

F.Dampak perubahan lingkungan
Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia menyebabkan adanya gangguan terhadap keseimbangan karena sebagian dari komponen lingkungan menjadi berkurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena campur tangan manusia dan dapat pula karena faktor alami. Dampak dari perubahannya belum tentu sama, namun akhirnya manusia juga yang mesti memikul serta mengatasinya.
1.    Perubahan Lingkungan karena Campur Tangan Manusia
Perubahan lingkungan karena campur tangan manusia contohnya penebangan hutan, pembangunan pemukiman, dan penerapan intensifikasi pertanian.
Penebangan hutan yang liar mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang. Selain itu, penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat lain adalah munculnya harimau, babi hutan, dan ular di tengah pemukiman manusia karena semakin sempitnya habitat hewan-hewan tersebut.
Pembangungan pemukiman pada daerah-daerah yang subur merupakan salah satu tuntutan kebutuhan akan pagan. Semakin padat populasi manusia, lahan yang semula produktif menjadi tidak atau kurang produktif.
Pembangunan jalan kampung dan desa dengan cara betonisasi mengakibatkan air sulit meresap ke dalam tanah. Sebagai akibatnya, bila hujan lebat memudahkan terjadinya banjir. Selain itu, tumbuhan di sekitamya menjadi kekurangan air sehingga tumbuhan tidak efektif melakukan fotosintesis. Akibat lebih lanjut, kita merasakan pangs akibat tumbuhan tidak secara optimal memanfaatkan CO2, peran tumbuhan sebagai produsen terhambat.
Penerapan intensifikasi pertanian dengan cara panca usaha tani, di satu sisi meningkatkan produksi, sedangkan di sisi lain bersifat merugikan. Misalnya, penggunaan pupuk dan pestisida dapat menyebabkan pencemaran. Contoh lain pemilihan bibit unggul sehingga dalam satu kawasan lahan hanya ditanami satu macam tanaman, disebut pertanian tipe monokultur, dapat mengurangi keanekaragaman sehingga keseimbangan ekosistem sulit untuk diperoleh. Ekosistem dalam keadaan tidak stabil. Dampak yang lain akibat penerapan tipe ini adalah terjadinya ledakan hama.
2.    Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam
Perubahan lingkungan secara alami disebabkan oleh bencana alam. Bencana alam seperti kebakaran hutan di musim kemarau menyebabkan kerusakan dan matinya organisme di hutan tersebut. Selain itu, terjadinya letusan gunung menjadikan kawasan di sekitarnya rusak.
















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan


B.     Saran
















DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar